Kamis, 09 Januari 2014

Logo SMK Kristen Gergaji Semarang

 Berikut ini adalah logo dari SMK Kristen Gergaji Semarang. Banyak teman-teman dan termasuk saya yang cukup kesulitan untuk mendapatkan logo SMKKG di internet. Ide untuk memposting logo ini sebenarnya sudah menjadi rencana lama, tetapi karena tertutup dengan berbagai macam kesibukan akhirnya rencana itu terkubur dalam-dalam. Hingga akhirnya hari ini salah seorang teman yang bernama FIR memberikan ide yang briliant sekali. Yap this is it ..... silakan download di sini. Semoga hal ini dapat membantu siapa saja yang membutuhkan logo SMKKG dengan cepat dan instan.

Jumat, 27 Desember 2013

Belajar Wirausaha di Sekolah

            Jumlah ideal wirausahawan dalam sebuah negara minimal 2% dari jumlah penduduk negara tersebut, sedangkan untuk negara Indonesia saat ini masih 0,24% dari jumlah penduduk yang berjumlah 237,64 juta orang (SM 3/12). Angka tersebut apabila kita cermati lebih mendalam akan memunculkan pertanyaan mengapa begitu sulit untuk meningkatkan angka tersebut.
            Orang yang menggeluti dunia wirausaha terkenal sebagai pribadi yang tekun, ulet dan kreatif memunculkan ide-ide yang bernilai jual. Dengan identitas tersebut lantas apakah masyarakat Indonesia bukan tipe orang yang berkarakter seperti demikian? Saya rasa hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk berani terjun ke dunia wirausaha, mulai dari ketersediaan modal hingga mental atau mindset yang tertanam dibenak setiap orang.
            Pada perkembangannya saat ini kita dapat melihat bahwa wirausaha semakin mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengajak masyarakat Indonesia tidak hanya pasif sebagai pencari kerja, tetapi diharapkan justru mampu untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Sehingga angka pengangguran akan semakin berkurang, masyarakat menjadi lebih produktif tanpa harus tergantung dengan perusahaan yang hanya membutuhkan beberapa pegawai saja.
            Untuk mengurai permasalahan ini saya melihat perhatian pemerintah saat ini telah sampai pada bangku sekolah. Banyak sekolah bahkan kampus-kampus sekarang berani mendeklarasikan diri sebagai sekolah yang berwawasan kewirausahaan. Hal ini semakin menarik untuk kita cermati karena selain deklarasi tersebut, dalam mata pelajaran yang diterima siswa saat ini terdapat mata pelajaran kewirausahaan.
Sedini mungkin
            Usaha ini bukan merupakan sebuah usaha yang terkesan asal. Mengapa di bangku sekolah? Jika kita lihat maka tempat yang paling tepat untuk memperkenalkan dan membina masyarakat terkait hal kewirausahaan adalah sekolah. Hal ini didasarkan bahwa pendidikan bukan hanya memberikan pengetahuan saja tetapi juga keterampilan. Selain itu usia anak sekolah dianggap sebagai usia yang produktif sehingga mereka perlu untuk mendapatkan bekal sebelum mereka terjun ke dunia kerja.
            Tujuan lain yang ingin dibidik adalah untuk memperkenalkan jiwa kewirausahaan kepada para siswa sedini mungkin. Hal ini mengingat bahwa jiwa kewirausahaan akan semakin tumbuh dan berkembang dalam pribadi seseorang membutuhkan proses. Dengan pengenalan dini ini diharapkan proses tersebut dapat berjalan dengan sempurna. Namun yang selanjutnya menjadi perhatian untuk kita semua adalah jangan sampai penumbuhan jiwa kewirausahaan yang sudah terintegrasi ke dalam mata pelajaran kewirausahaan berhenti sebatas pemberian ilmu di dalam kelas saja. Pada level ini kita membutuhkan guru yang cerdas untuk mengajarkan mata pelajaran wirausaha ini.
            Guru cerdas yang saya maksudkan di sini adalah guru yang penuh ide dan kreativitas yang tinggi terutama dalam hal untuk melakukan praktek nyata kewirausahaan dengan siswa. Hal ini sangat erat kaitannya dengan karakteristik mata pelajaran kewirausahaan yang diajarkan. Jika mata pelajaran tersebut hanya sebatas mengkaji ilmu di ruang kelas saja, maka sangat tidak tepat karena mata pelajaran ini mempunyai karakteristik action. Melalui aksi nyata maka para siswa akan memperoleh keterampilan bagaimana caranya melihat peluang, memulai serta mengelola ide-ide bisnis mereka.
            Pada praktek di masing-masing level pendidikan hal ini dapat disesuaikan dengan jenjang yang ditangani. Sebagai contoh pada tingkat sekolah dasar, hal yang ingin ditanamkan adalah memperkenalkan kemampuan diri dalam mengkreasikan barang-barang di sekitar yang mampu bernilai ekonomis. Misalnya kerajinan tangan sederhana dan menggambar. Selanjutnya pada tingkat sekolah menengah hal yang ingin ditanamkan adalah bagaimana mereka agar berani melakukan kegiatan wirausaha. Misalnya menjual produk, kemudian meghitung laba yang mereka peroleh dan menjaga agar usaha yang mereka jalankan dapat bertahan atau justru mampu membidik usaha baru sesuai peluang yang muncul.
        Serangkaian kegiatan di atas mutlak membutuhkan guru yang kreatif. Guru yang mampu membangunkan jiwa kewirausahaan yang ada di dalam diri siswa. Perencanaan kegiatan wirausaha yang akan dijalankan tidak harus berupa kegiatan yang besar dan mendatangkan keuntungan yang besar. Justru dimulai dari kegiatan yang sederhana yang terpenting adalah rasa percaya diri dan pantang menyerah mampu tertanam di hati para siswa. Misalnya menjual kembali makanan ringan siap saji kepada para calon pelanggan. Tentunya para siswa harus mencari calon pelanggan yang sesuai dengan produk yang mereka miliki.
            Apabila mulai jenjang sekolah dasar, menengah hingga perguruan tinggi mampu mengemas pembelajaran kewirausahaan dengan baik, maka saya yakin proses yang berjalan panjang dan berkesinambungan akan semakin memantapkan pola pikir siswa menjadi seorang wirausahawan. Mari kita temukan kemasan tersebut demi bekal anak didik kita.

Senin, 02 Desember 2013

Pendidikan Karakter Dalam UAS



            Sesuai dengan kalender pendidikan, kegiatan belajar mengajar semester Gasal tahun pelajaran 2013/2014 akan berakhir pada bulan Desember. Hal tersebut ditandai dengan diselenggarakannya ujian akhir semester (UAS) gasal. Sejauh ini beberapa sekolah, khususnya yang berada di wilayah kota Semarang telah mempersiapkan segala keperluan terkait penyelenggaraan UAS di sekolah masing-masing.
            Setelah hampir satu semester para siswa berkutat dengan segala metode pembelajaran, maka bulan Desember nanti merupakan saat di mana mereka diuji kemampuannya. Bukan hanya diuji aspek pengetahuan saja, tetapi menurut saya UAS ini juga menguji sikap siswa. Sikap disini dapat kita artikan sebagai sebuah pengujian terhadap nilai-nilai karakter yang selama proses kegiatan belajar mengajar telah disisipkan oleh guru.
            Pengenalan dan penumbuhan nilai-nilai karakter ini dapat kita jumpai mulai dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disusun guru sampai dengan isi materi pelajaran yang akan diajarkan. Setidaknya minimal terdapat 18 nilai karakter yang hendak ditanamkan kepada para siswa. Saya mempunyai pandangan bahwa UAS gasal bulan Desember nanti dapat kita gunakan sebagai moment untuk semakin memperkuat pendidikan karakter siswa.
            Pandangan ini saya awali dari penanaman pendidikan karakter sebenarnya tidak hanya pada saat proses kegiatan belajar mengajar saja, tetapi hingga pada pelaksanaan UAS. Sehingga sampai pada tahap ini kita mempunyai pemahaman bahwa UAS memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai pemerkuat sekaligus menguji pendidikan karakter siswa.
Kalimat Pengingat
            Sejak pendidikan karakter mulai diterapkan, perlengkapan pembelajaran seperti RPP, buku pelajaran dan buku lembar kerja siswa ditambahkan kolom kandungan nilai karakter. Terkait dengan UAS kita juga dapat menuliskan sederet kalimat pengingat berupa kalimat motivasi atau kalimat penyemangat. Sebagai contoh “Berusaha keras adalah kemenangan yang hakiki. Yakinlah dengan kemampuan mu”. Hal ini termasuk dalam nilai karakter, pantang menyerah, percaya pada kemampuan diri sendiri dan jujur.
            Contoh kalimat sederhana di atas adalah sepenggal kalimat yang bermuatan pendidikan karakter yang dapat dituliskan pada lembar soal ujian dan ditempatkan paling bawah di halaman terakhir. Konsep seperti ini mengingatkan kita pada buku tulis yang disetiap akhir halamannya terdapat kalimat atau kata-kata mutiara. Jika hal tersebut dapat memacu siswa untuk menjadi lebih baik, kenapa tidak kita adopsi ke dunia pendidikan.
Saya rasa penulisan kalimat tersebut tidak akan memakan banyak tempat karena ditempatkan pada halaman terakhir dan paling bawah setelah soal terakhir. Selain itu biasanya saya melihat terdapat kalimat “Selamat mengerjakan, semoga sukses”, jika sama-sama menuliskan sebuah kalimat mengapa tidak kita coba kalimat motivasi yang mengandung nilai karakter seperti di awal tadi.
            Harapan yang ingin dicapai dari cara ini adalah untuk mengingatkan dan menumbuhkan kesadaran siswa bahwa ujian yang sedang mereka hadapi merupakan tahap akhir atas apa yang telah mereka jalani selama satu semester, sehingga kesungguhan adalah hal yang sangat menentukan dan sangat dihargai. Bukan hanya sekedar nilai akhir saja yang didapat, tetapi sebuah nilai proses yang terpenting.
            Semoga cara ini mampu direspon positif oleh dinas pendidikan maupun sekolah yang mengadakan penggandaan soal. Saya rasa hal ini layak kita coba sebagai salah satu upaya kita para pendidik secara kontinyu untuk membawa siswa sebagai pribadi yang berkarakter, sehingga harapan jauh ke depannya adalah siswa siap menghadapi ujian apapun termasuk ujian nasional.

Minggu, 24 November 2013

Kita Juga Pahlawan



            Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Kalimat tersebut selalu menjadi tagline bulan November di negara Indonesia.
            Mereka mempunyai semangat dan tekad yang sungguh luar biasa dalam mempertahankan negara Indonesia hingga mereka rela mempertaruhkan nyawa. Pada era sekarang ini konsep pahlawan saya rasa tidak sesempit apa yang mereka lakukan zaman dahulu. Saat ini pahlawan adalah mereka yang mempunyai jiwa mengabdi untuk negara dan tanpa memikirkan apa yang akan mereka peroleh bahkan tanpa memikirkan apakah nantinya mereka akan dikenal atau tidak atas jasa-jasanya itu.
            Hari pahlawan saat ini sebaiknya bukan hanya dimaknai sekedar ceremonial belaka dengan mengadakan upacara bendera. Jika kita dapat bertanya kepada mereka para pahlawan yang telah gugur, mereka sebenarnya tidak menginginkan dihormati dengan sedemikian rupa. Mereka lebih memilih kita sebagai generasi penerus bangsa mampu memberikan hal yang lebih untuk bangsa Indonesia. Semangat perjuangan yang dahulu menggunakan otot sekarang telah bergeser menggunakan otak. Rasa nasionalisme yang tinggi serta fokus terhadap pembangunan bangsa.
            Para pahlawan memang tidak menginginkan dihormati dengan sedemikian rupa, tetapi upacara bendera adalah salah satu bukti bahwa kita menghormati dan menghargai mereka. Siapapun kita, setiap diri kita adalah pahlawan. Sekarang yang belum kita lakukan adalah membela dan membangun negara kita tercinta sesuai dengan apa yang kita miliki. Mereka semua menunggu langkah nyata kita untuk Indonesia.

Rabu, 07 Agustus 2013

Pintar Dunia dan Akhirat


       “Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” Penggalan hadist riwayat Ibnu Abdil Bar tersebut sangat jelas menunjukkan bahwa kewajiban setiap muslim adalah menuntut ilmu. Ilmu adalah gerbang utama dalam memerangi kebodohan. Berbekal ilmu pengetahuan, umat manusia dapat membangun peradaban yang sunguh sangat luar biasa. Namun dengan ilmu pula manusia dapat menghancurkan sebuah peradaban.
       Kewajiban dalam menuntut ilmu tersebut oleh pemerintah diejawantahkan melalui program wajib belajar (wajar) 9 tahun. Terbukti bahwa perkembangan pada tiap tahun dan tiap periodenya, kesadaran masyarakat Indonesia untuk menyekolahkan putra-putrinya semakin meningkat. Beberapa keluarga yang kurang mampu juga mendapatkan perhatian dari pemerintah berupa sekolah gratis melalui program bantuan operasional sekolah (BOS) dan beasiswa. Dirasa program wajar 9 tahun masih kurang, maka beberapa kepala daerah yang daerahnya dinilai mampu mulai menjalankan program wajar 12 tahun.
       Tidak berhenti di situ saja, saat ini pemerintah juga membidik agar angka masyarakat yang menyandang gelar sarjana jumlahnya semakin meningkat. Berbagai program mulai dirancang dari program biaya operasional perguruan tinggi negeri (BOPTN), beasiswa bidikmisi, hingga uang kuliah tunggal (UKT). Semua usaha tersebut tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pendidikan.
       Dengan pendidikan yang baik dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia, maka akan menjadikan kualitas manusia yang unggul sehingga masyarakat dapat meningkat dari segi perekonomian serta kita tidak dipandang sebelah mata oleh negara lain. Berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) itulah harapan para pendiri bangsa ini kepada para generasi penerusnya. Jika kita tinjau dari sisi Al-qur’anul karim, kita akan menemukan pada surat Al-mujadalah ayat 11 bahwa Allah akan meninggikan beberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan).
       Dari ayat tersebut jelas bahwa orang yang berilmu (orang yang bersedia untuk menuntut ilmu) akan jauh jika dibandingkan dengan orang yang bermalas-malasan tidak mau untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Peningkatan derajat tersebut dalam kehidupan dunia misalnya dalam hal rizqi yang diterimanya dan pekerjaan yang ia kerjakan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.
       Akan tetapi saya menilai bahwa oleh sebagian masyarakat terkait kewajiban dalam menuntut ilmu ini masih terdapat hal yang mengganjal: pertama, kata “ilmu” masih diartikan sebatas ilmu pengetahuan duniawi atau yang dipelajari di sekolah umum saja. Kedua, seiring dengan pengartian ilmu pada poin pertama maka seseorang biasanya akan berhenti menuntut ilmu saat ia sudah tidak lagi berada di bangku sekolah. Ketiga, semangat dalam menuntut ilmu yang terkadang hingga “setinggi langit” bukan didasari pada niatan beribadah atau hanya sekedar mengejar ketenaran dunia atau gelar belaka. Semua hal tersebut merupakan refleksi dari peristiwa di sekitar kita yang terkadang kita menjumpai seseorang yang bergelar tetapi perilakunya tidak sesuai dengan gelar yang telah dicapainya, atau seseorang yang bergelar tetapi dengan segala kepandaiannya ia justru merendahkan orang lain yang dianggapnya bodoh.
       Hakikat dari ilmu adalah segala sesuatu yang mampu memberikan nilai  tambah dalam kehidupan kita. Nilai inilah yang akan membedakan kita dengan manusia yang lainnya. Ilmu merupakan sebuah pasangan dari pemanfaatan karunia Allah SWT terhadap manusia yaitu otak. Seseorang yang menyadari bahwa otak fungsinya adalah untuk berpikir, maka ia akan selalu berhati-hati dalam setiap langkahnya di dunia. Dari pendeskripsian hakikat ilmu tersebut, jelas bahwa ilmu itu berada dekat di kehidupan manusia dan sangat erat dengan aktivitas manusia. Tanpa kita sadari, ilmu pengetahuan akan hadir dengan sendirinya saat kita melakukan perenungan terhadap diri kita. Maka segala pemikiran yang dilakukan manusia akan berujung pada Allah Yang Maha Kuasa. Dia-lah yang menciptakan kita dan Dia-lah yang mempunyai hak atas kita.
       Beberapa orang yang masih menilai bahwa ilmu adalah apa yang dipelajari di sekolah, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang belum menggunakan kemampuan otaknya secara maksimal. Segala hal di luar pengajaran sekolah, bagi mereka bukanlah sebuah ilmu. Ilmu bagi mereka adalah sarana untuk menggenggam kesuksesan masa depan. Maka tidak heran jika mereka sudah tidak lagi bersekolah, mereka tidak lagi mempelajari ilmu pengetahuan. Sesungguhnya ilmu itu tidak hanya sebatas pengetahuan matematis, biologis, alam dan sebagainya. Selain ilmu-ilmu tersebut juga terdapat ilmu agama. Ilmu yang mengajari manusia untuk mengenal siapa Tuhannya. Ilmu yang menjadikan manusia tidak sesumbar dengan apa yang dimilikinya, karena ia sadar sepenuhnya bahwa hidupnya adalah atas izin dan kehendak Allah.
       Ilmu inilah yang terkadang bagi beberapa masyarakat kita sering dinomor duakan. Padahal untuk mempelajari ilmu agama ini tidak harus bersusah payah mengikuti jenjang-jenjang pendidikan seperti di sekolah konvensional. Datang pada sebuah pengajian atau majlis ta’lim, mengaji dengan guru ngaji, mempelajari sifat-sifat dan asma-asma Allah. Semua itu termasuk dalam upaya kita untuk mempelajari ilmu akhirat.
       Disadari atau tidak, dalam hati manusia yang paling dalam terdapat sebuah ruang kosong yang tidak mampu diisi oleh segala macam ilmu pengetahuan. Ruang tersebut hanya mampu diisi oleh ilmu agama yang mampu melengkapi hati kita menjadi hati manusia yang seutuhnya.
       Salah seorang guru mengaji saya pernah mengatakan bahwa, manusia hidup di dunia ini jika hanya mempelajari ilmu dunia tanpa diimbangi dengan ilmu akhirat (agama) bagaikan kaki kiri yang melangkah tetapi tidak diikuti oleh kaki kanan. Ilmu agama ini pasti akan berguna bagi diri kita sendiri dan nantinya akan berguna bagi keluarga kita. Terutama bagi anak-anak kita yang akan menanyakan segala macam pengetahuan agama kepada kita orang tuanya. Lalu bagaimana jika anak-anak kita bertanya tentang ilmu agama dan kita sebagai orang tua tidak mampu menjawabnya? Akankah kita hanya pandai berkata saja, tanpa memberikan panduan yang nyata? Berwudlu, shalat, membaca Al-qur’an dengan ilmu tajwid merupakan hal yang tidak mungkin tidak kita ajarkan kepada anak-anak kita. Mari lengkapi langkah kita dengan ilmu dunia serta ilmu akhirat.