Selasa, 11 Desember 2012

Peranan Arsip dalam Menjaga Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia*



Oleh:
Muhamad Nukha Murtadlo
A.    Pendahuluan
            “Dunia tanpa arsip, ibarat dunia tanpa informasi”. Itulah sepenggal kalimat yang tertera diselembar stiker yang saya peroleh dari stand Arsip Daerah kota Semarang ketika saya mengunjungi pameran buku yang diselenggarakan di gedung wanita Semarang bulan April 2012 silam. Pikiran saya tergelitik saat mendapatkan souvenir tersebut, sepenggal kalimat yang menurut saya sangat sederhana namun sering kita tidak menyadarinya.
            Ketika kita berbicara mengenai informasi, pikiran kita sering sekali tertuju kepada suatu sumber yang “lazim” kita datangi dan sangat dekat dengan kita. Sebut saja perpustakaan, media baik cetak maupun elektronik, diskusi dalam sebuah seminar atau pertemuan. Apa lagi pada era sekarang dengan kecanggihan tekhnologi yang sudah semakin berkembang, arus informasi tersebut dapat mengalir dengan demikian cepatnya.
            Sedangkan ketika kita berbicara tentang arsip, pemikiran kita tertuju kepada suatu dokumen yang sudah terlewatkan masa pemakaiannya, kemudian disimpan didalam rak penyimpanan dengan sistem penyimpanan tertentu, dalam jangka waktu tertentu, lalu setelah masa penyimpanan telah usai kemudian berkas tersebut dimusnahkan supaya tidak membuat penuh tempat penyimpanan. Pemikiran tersebut tidak salah, karena jika kita berpikiran seperti itu berarti pemikiran kita tertuju kepada berkas-berkas atau arsip administrasi perkantoran.
            Arsip yang akan kita bahas pada artikel ini adalah arsip kenegaraan bangsa Indonesia pada masa silam. Masa dimana negara Indonesia sedang dalam masa “penggodogan” jati diri, kemudian masa kelahiran, serta masa perkembangan bangsa Indonesia. Mengingat jenis arsip yang sedemikian pentingnya itu, maka tidak ada kata pemusnahan. Arsip tersebut disimpan dan dirawat dengan rapi tentunya di Arsip Negara Republik Indonesia.
            Tempat penyimpanan arsip menurut saya tidak ubahlah bagaikan perpustakaan. Arsip dapat menceritakan banyak hal kepada kita layaknya buku yang kita baca di perpustakaan. Bahkan lebih dari itu, jika kita mau untuk mencermati lebih dalam tentang arsip tersebut, maka kita akan mendapatkan suatu pesan moral yang sungguh sangat berarti untuk kehidupan kita para generasi penerus. Cobalah sesekali jika anda membaca suatu arsip, jangan hanya sekedar dibaca isi atau apa yang tertulis diarsip tersebut. Coba anda kaji lebih dalam tentang asal mula terbitnya dokumen tersebut, atau jika arsip tersebut berupa foto maka coba imajinasikan perbandingan foto tersebut dengan keadaan saat ini. Pasti anda akan mendapatkan sesuatu pelajaran yang berharga pada diri anda.
            Saya ingin menyampaikan bahwa sebenarnya kita telah terlalu jauh melupakan makna kebersamaan bangsa. Kita terlalu sibuk mempermasalahkan perbedaan masing-masing individu. Semangat dalam membangun bangsa terkadang harus ternomor duakan setelah kepentingan kelompok. Sudah saatnya kita berhenti sejenak dari segala macam hiruk pikuk dan keruwetan ini, lalu mencoba untuk menyadarkan diri bahwa semua ini harus lahir kembali dengan semangat yang sama saat Indonesia merdeka 67 tahun silam.
            Bagaimana caranya? Salah satunya yang saya ungkapkan dalam artikel ini adalah dengan arsip yang berperan sebagai salah satu penjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kita akan mengkaji bersama bagaimana arsip dapat memberikan kita informasi sekaligus pembelajaran makna hidup berbangsa dan bernegara. Melalui semangat persatuan maka kita akan diajarkan bagaimana melihat arsip tidak hanya sebagai berkas lawas yang disimpan untuk kenang-kenangan.
B.     Menjaga Kedaulatan NKRI Melalui Arsip
            Sudah pernahkah anda mendatangi kantor arsip kota atau daerah anda? Jika sudah, apa yang biasanya akan anda temukan di kantor tersebut. Pasti segala macam dokumen yang berhubungan dengan perjalanan kota anda. Tidak jarang juga kita menemukan dokumen yang tersimpan berupa foto kegiatan bersejarah atau foto tata kota saat itu.
            Anda boleh saja menganggap arsip sebagai tempat rekreasi seperti museum dimana anda dapat melihat peninggalan bersejarah pada zaman dahulu yang masih disimpan sampai saat ini. Namun saya lebih mengharapkan anda dapat melihat arsip sebagai saksi bisu lahirnya perjuangan sejarah, jadi lebih dari hanya sekedar benda “kenang-kenangan”.
            Arsip dapat berperan sebagai alat atau media penjaga kedaulatan NKRI. Peranan ini tentunya harus kita dukung dan kembangkan bersama, supaya banyak orang yang juga berpandangan sama mengenai peranan tersebut. Di bagian awal saya mengungkapkan bahwa jika anda dapat menangkap makna yang tersirat dari dokumen-dokumen tersebut maka niscaya anda akan menjadi orang yang bijaksana. Orang yang bijaksanalah yang saat ini sedang dibutuhkan bangsa Indonesia, dimana ketika ia melihat suatu perbedaan dapat menyikapi dengan bijak dan penuh tanggung jawab.
            Mari kita kaji satu persatu dokumen apa saja yang terdapat di kantor atau dinas penyimpanan arsip (baik daerah maupun pusat) dan pemaknaan apa yang dapat kita petik pelajaran untuk kita implementasikan dalam kehidupan berbangsa sebagai upaya kita untuk menjaga kedaulatan NKRI.
1.      Hasil suatu perjanjian atau pertemuan.
Pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, negara kita sering sekali mengadakan perundingan-perundingan dengan pemerintahan kolonial pada saat itu. Perjanjian tersebut biasanya dilakukan oleh salah satu orang yang ditunjuk untuk mewakili Indonesia dalam merumuskan perjanjian. Perjanjian tersebut diantaranya perjanjian Renville, perjanjian Bongaya, perjanjian Linggar jati. Ketika kita membaca isi dari perjanjian tersebut janganlah hanya sekedar membaca saja, namun resapilah makna hingga terjadinya perjanjian tersebut. Pertama, pada dasarnya perjanjian-perjanjian itu dilaksanakan untuk mendapatkan titik tengah atau win-win solution dari kedua belah pihak. Terdapat makna saling menghargai antar kedua belah pihak walaupun saat itu kedua belah pihak sedang dilanda kebencian yang amat sangat. Hal ini yang sedang krisis diantara kita (rakyat Indonesia). Berbeda sedikit saja, timbullah perpecahan. Mari kita dapat menahan diri seperti para perunding sejati bangsa Indonesia saat itu. Kedua, para delegasi yang ditugasi untuk merumuskan perjanjian sangat menjunjung tinggi rasa kebangsaan. Hal ini dibuktikan bahwa poin-poin perjanjian yang mereka setujui haruslah berpihak kepada kepentingan bangsa. Ini mungkin dapat ditiru oleh para anggota dewan yang terhormat, dimana saat mengesahkan undang-undang atau peraturan maka harus menjunjung tinggi kepentingan rakyatnya. Ketiga, dari perjanjian tersebut merupakan suatu upaya atau bentuk pemikiran agar masyarakat Indonesia tidak terpecah belah. Ada semacam rasa tidak tega dan tidak rela jika melihat sesama bangsa Indonesia tertindas dalam ketidak adilan. Kita lihat saja beberapa perundingan misalnya konferensi Asia-Afrika 1955 yang dipelopori oleh Indonesia melalui Ir. Soekarno atas penindasan yang masih terjadi di negara Afrika dan menghasilkan Dasa sila Bandung, sumpah pemuda yang diikrarkan oleh seluruh pemuda Indonesia dari berbagai pelosok nusantara. Keseluruhan perjanjian tersebut bertujuan untuk menjaga Indonesia tetap satu dan sepakat untuk membulatkan tekat melawan penindasan.
2.      Pidato kepresidenan.
Pidato keprsidenan yang sampai saat ini masih banyak disimpan adalah pidato dari presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno. Memang, presiden pertama kita itu terkenal sebagai orator yang unggul. Beliau dapat dengan mudah mengobarkan semangat para rakyatnya hanya dengan orasi yang sungguh memikat hati. Rekaman pidato baik berbentuk rekaman suara maupun rekaman gambar jika kita perhatikan, presiden Soekarno selalu mempunyai makna yang mendalam disetiap pidato yang ia bacakan. Terlebih lagi, para audience yang tidak lain adalah rakyatnya sendiri selalu menyambut dengan penuh antusias dan selalu diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah. Apakah pidato pejabat sekarang perlu untuk diberi tepuk tangan? Bukan seperti itu maksud saya. Saya melihat ada suatu penghormatan rakyat terhadap pemimpinnya. Hal ini jika kita kaji lebih dalam dikarenakan sosok pemimpin yang menghargai rakyatnya, sehingga timbul kecintaan yang mendalam dihati rakyat. Hubungan yang harmonis bukan?
3.      Dokumen Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Dokumen selain naskah proklamasi juga banyak, misalnya Pancasila kemudian pembukaan UUD 1945. Dari beberapa contoh dokumen tersebut dapat kita resapi bahwa susunan kata dan kalimatnya sungguh sangat memiliki makna yang mencakup luas seluruh lapisan rakyat Indonesia. Dari pemaknaan tersebut kita dapat mengambil makna bahwa persatuan dan kesatuan bangsa lebih diatas segalanya.
4.      Foto-foto zaman dahulu.
Ini adalah koleksi yang paling sering dan pasti ada disetiap kantor arsip daerah, yaitu foto perkembangan tata kota. Pada saat saya mendatangi stand Arsip Daerah kota Semarang saat acara pameran buku, ada satu foto yang membuat saya terkagum-kagum sekaligus terheran-heran. Itu adalah foto jembatan Berok kota Semarang tahun 1938 Didalam foto tersebut sungai Berok sedang dilewati kapal Belanda yang sedang mengarungi sungai untuk melakukan perdagangan di kota Semarang tepatnya di daerah sekitar sungai Berok dan daerah Johar. Saya sungguh kagum melihat foto tersebut Karena melihat kondisi sungai Berok yang saat ini, sepertinya sulit untuk percaya bahwa sungai tersebut pada zaman kolonial Belanda dipergunakan sebagai akses pintu masuk kapal perdagangan. Sehingga kalau mau diruntut juga terdapat pasar yang dibangun oleh Belanda untuk mendukung fungsi perdagangan dikala itu, yaitu pasar Johar. Melalui foto-foto inilah kita dapat mengambil pelajaran yang bermakna mengenai semangat konservasi lingkungan, kebudayaan serta perncanaan perekonomian. Dari contoh foto sungai Berok tersebut dapat kita kembangkan pemikiran bahwa pendangkalan yang saat ini terjadi di sepanjang sungai Berok sangatlah parah dan ukuran sungai yang semakin menyempit dengan adanya pelebaran jalan serta pemukiman penduduk. Tak ayal jika musim penghujan tiba atau saat rob datang, kawasan tersebut tergenang air dengan waktu yang cukup lama karena fungsi utama sungai Berok sudah tidak maksimal lagi. Sisi lain yang dapat kita pelajari yaitu akulturasi kebudayaan Tionghoa, Arab dan Pribumi yang hidup berdampingan dengan damai selama berpuluh-puluh tahun di daerah dekat sungai Berok yang berlangsung hingga sekarang. Mereka hidup saling berdampingan tanpa pernah terjadi pertikaian, inilah tanda saling menghargai.
            Demikian merupakan sebagian contoh kecil beberapa benda atau dokumen yang tersimpan di kantor arsip daerah maupun pusat. Bagaimana? ternyata banyak sekali bukan, hal-hal yang dapat kita maknai jika kita mau untuk merenungkan lebih dalam. Inilah yang saya maksud dengan pemaknaan arsip. Dari keempat contoh diatas mari coba kita sandingkan dengan problematika yang saat ini kerap terjadi, banyaknya tawuran pelajar serta para pemimpin yang lupa dengan rakyatnya sehingga menimbulkan ketidak percayaan rakyat terhadap pimpinan. Mari kembali belajar melalui arsip-arsip yang telah ada, kita akan merasa malu apabila kita melakukan semua hal tersebut padahal pada zaman dahulu para pendahulu kita dapat melaksanakan segala sesuatu secara adil, bijaksana dan berlandaskan atas semangat kebersamaan. Tawuran pelajar? Belajarlah kepada sumpah pemuda. Pimpinan yang lupa rakyat? Belajarlah kepada naskah proklamasi. Bijaksanalah dalam melangkahkan kaki menuju Indonesia sejahtera melalui arsip.
C.    Penutup
            Saya rasa bukan merupakan suatu pemikiran yang berlebihan apabila kita menginterpretasikan arsip-arsip tersebut sedemikian rupa. Arsip mempunyai kekuatan yang tersembunyi. Kekuatan tentang buah pemikiran dari akal manusia, perkembangan peradaban serta kearifan kebudayaan lokal yang dapat mengingatkan kita kepada semangat nasionalisme. Semangat tersebut perlu kita hidupkan lagi saat ini, mengingat banyaknya perpecahan yang terjadi. NKRI adalah harga mati. NKRI merupakan cita-cita para pendiri bangsa, untuk itu mari kita jaga keutuhan bangsa ini dengan memberikan pembelajaran kepada generasi penerus yang sungguh sangat berharga.
________________________
* Artikel dikirim untuk lomba karya tulis Arsip Nasional Republik Indonesia 2012. www.anri.go.id



Internet, Just One Click To Another World *


Oleh: Muhamad Nukha Murtadlo

            Saat ini perkembangan teknologi sangat pesat dirasakan oleh umat manusia. Anda ingat kapan terakhir kali anda menggunakan internet? Saya yakin jawaban anda adalah beberapa menit yang lalu bukan? (bahkan sekarangpun anda sedang membaca artikel ini melalui internet) Internet bukanlah barang yang lux untuk saat ini. Dengan 3.000 perak anda dapat mengakses internet di warnet selama 1 jam. Beberapa modempun sekarang memberikan paket internet dengan harga yang miring. Bahkan internet dapat berada pada genggaman tangan didalam hand phone anda. Semakin mudah, dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun itulah internet sekarang. 

            Arus perkembangan teknologi saat ini tidak dapat dibendung lagi, dari tahun ketahun perkembangan tersebut semakin cepat dan selalu muncul hal-hal yang baru. Kita sebagai umat manusia yang peka terhadap perubahan harus dapat memanfaatkan ini dengan sebaik mungkin. Pernahkah anda mendengar istilah time traveller? Seseorang yang melakukan perjalanan menjelajah waktu dengan bantuan mesin waktu sehingga dia dapat melihat apa yang terjadi dimasa lalu dan apa yang akan terjadi dimasa depan. Memang, banyak orang yang mensangsikan hal ini. Terlepas dari perdebatan benar atau tidaknya time traveller, tanpa bantuan mesin waktu anda juga dapat melakukan perjalanan waktu versi anda sendiri.

            Sebagai contoh kecil, jika adik anda atau anak anda sedang belajar IPA dan dia menanyakan kepada anda “Kak / yah, meteor itu apa sih?” anda tidak perlu bingung-bingung merangkai kata atau bahkan anda tidak perlu sok tahu jika anda memang tidak tahu. Bukakan saja internet dan pandu sikecil untuk mendapatkan pengetahuan tentang meteor yang ia tanyakan. Ia akan mendapatkan informasi lengkap mulai dari pengertian, sebab terjadinya dan beberapa meteor yang pernah jatuh di Indonesia (termasuk meteor garden :p ) Penjelasan yang ia dapatkan melalui internet akan melengkapi apa yang telah ia pelajari melalui Bapak/Ibu gurunya disekolah. Bahkan kemungkinan ia akan mendapatkan pengetahuan baru.

            Selama anda dan sikecil berseluncur di dunia maya, anda dan dia telah “mengunjungi” beberapa tempat di dunia yang tercatat pernah dijatuhi meteor. Lalu anda dan dia telah “berkenalan” dengan ilmuan yang pertama kali menemukan dan meneliti tentang meteor yang notabene sang ilmuan telah tiada. Serta agenda yang tidak boleh dilupakan adalah dalam jangka berapa tahun lagi anda dan dia dapat melihat benda langit yang pindah dengan mata telanjang? Semua telah dapat dihitung secara matematis, jadi anda dan sikecil hanya tinggal menantikan kapan tahun tersebut datang. Anda menyadari atau tidak bahwa serangkaian kegiatan yang telah anda lakukan tadi telah membawa anda menjelajah waktu baik masa lalu maupun perkiraan masa depan. Secara fisik anda berada di satu tempat tetapi pikiran dan imajinasi anda melanglang buana kepenjuru dunia yang lain.

            Kita patut bersyukur atas perkembangan teknologi ini. Salah satu rasa syukur kita adalah dengan memanfaatkan internet ini dengan sebaik mungkin dan bijak. Kita gali potensi yang ada pada diri kita dengan bantuan internet, kita eksplor pengetahuan kita dengan internet, jadikan internet sebagai jendela ilmu. Lalu bagaimana cara memanfaatkan internet dengan bijak? Salah satunya dengan self control. Kita tahu semua ada di internet, jika memang anda tidak berminat dan tidak berniat terhadap informasi tersebut maka katakan STOP!!! Internet banyak memberikan inspirasi kepada kita. Mari kita majukan negara Indonesia tercinta melalui satu langkah kecil ini.

*Artikel dikirim untuk lomba menulis artikel internet cerdas Indonesia, yang selanjutnya dipublikasikan di http://internetcerdasindonesia.org/internet-just-one-click-to-another-world/ dan ini karya Dosen saya http://internetcerdasindonesia.org/go-blog-tambah-pinter/

Tugas 6 Bahasa Inggris


Nama   : Muhamad Nukha Murtadlo
NIM    : 0102512006
Prodi   : Manajemen Pendidikan
Dosen  : Ahmad Sofwan, Ph. D

            Berikut adalah kajian pustaka penelitian terdahulu yang membahas mengenai perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi manajemen pendidikan yang diterapkan pada beberapa instansi pendidikan di luar negeri:

       Stehle, Birgit dan Martina (2012) dalam jurnalnya mengenai pengukuran keefektifan pengajaran yang membahas hubungan antara evaluasi pengajaran mahasiswa dan perbedaan pengukuran pembelajaran mahasiswa, mengatakan bahwa berdasarkan evaluasi pengajaran siswa terhadap pembelajaran selalu menghasilkan hasil yang tidak tetap. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat heterogenitas kemampuan mahasiswa yang berbeda-beda. Dijelaskan oleh Stehle bahwa terdapat dua tipe mahasiswa yaitu tipe yang berorientasi pada tujuan (objektif) dan tipe yang berorientasi pada pokok-pokok tiap tahapan pembelajaran (subjektif). Berdasarkan kedua kategori tersebut maka timbulah sistem penilaian yang berbeda. Mahasiswa yang berorientasi pada tujuan biasanya dinilai dengan penghargaan, sedangkan  mahasiswa yang berorientasi pada pokok bahasan dinilai melalui ketelitian dalam mengerjakan ujian. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu ingin mengetahui bagaimana mahasiswa tipe subjektif dalam pembelajarannya. Populasi penelitian tersebut adalah seluruh mahasiswa kesehatan yang sudah memasuki  tahun ketiga, sampelnya yaitu siswa yang tergolong kedalam tipe subjektif. Sedangkan metode yang diterapkan yaitu kuantitatif dengan validitas multisection. Hasil dari penelitian tersebut membuktikan bahwa pada mahasiswa tipe subjektif sangat cocok apabila sistem penilaiannya yaitu dengan penilaian ujian praktek, namun mahasiswa tipe subjektif akan kesulitan apabila penilaian dilakukan dengan pilihan ganda. Hal ini berkaitan dengan daya tangkap dan cara belajar yang dilakukan oleh mahasiswa tipe subjektif. Dengan adanya hasil penelitian tersebut maka pengajar diharapkan dapat mengetahui kriteria dari masing-masing mahasiswanya dan memperkuat kelemahan yang dimiliki mahasiswanya.

            Bahr (2012) mengadakan penelitian mengenai penggolongan himpunan perguruan tinggi berdasar pada penggunaan pola mahasiswa untuk mengetahui tingkat variasi pola mahasiswa dari 105 perguruan tinggi di California. Metode penelitian yang dipakai menggunakan metode kuantitatif. Bahr menemukan bahwa pola mahasiswa sangat bervariasi di seluruh perguruan tinggi dan selanjutnya pola-pola tersebut cenderung mengelompok sedemikian rupa hingga perguruan tinggi diklasifikasikan berdasarkan pola dominan dan pola tidak proporsional. Dari hasil penelitian tersebut, maka dapat diambil saran bahwa dengan pola keberagaman yang dimiliki masing-masing mahasiswa dapat ditemukan pola-pola penggunaan yang terkait sistematis dengan sejumlah ukuran kinerja kelembagaan. Hal tersebut tentunya dapat digunakan untuk mengoptimalkan peran dosen dalam melaksanakan pengajaran sehingga pembelajaran yang terjadi dapat lebih bermakna.

            Selanjutnya Webber (2012) mengemukakan tentang peran dari penelitian kelembagaan  yang ada pada penelitian perguruan tinggi. Penelitian ini didasari oleh lembaga penelitian professional yang sering berfungsi sebagai kolaborator dengan pihak kampus yang memerlukan bantuan dengan desain survei, analisis statistik, review program, dan penilaian program individu atau lembaga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan yang dimainkan oleh peneliti kelembagaan dalam studi profil yang komprehensif dan tinggi untuk perkembangan pengelolaan kampus. Penelitian ini fokus terhadap pola perolehan pembelajaran oleh mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menerapkan random sampling terhadap mahasiswa di tiap fakultas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 96% mahasiswa merasa kemampuan pembelajaran mereka berasal dari praktek dan penelitian yang ditugaskan. Hasil tersebut kemudian dapat digunakan oleh para pemegang kepentingan untuk mendesain pola pengajaran yang lebih bersifat menuntut mahasiswa untuk aktif menemukan ilmu.

            Pike, John dan Corinna A E (2011) mengadakan penelitian mengenai hubungan antara disiplin dan tingkat keterlibatan dengan hasil belajar mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar pengaruh dari kedua variabel tersebut terhadap hasil belajar yang kemudian akan dapat diketahui bagaimana pembentukan pengelolaan pembelajaran yang tepat oleh kampus. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan sampel acak bertingkat dari 20.000 senior yang berpartisipasi dalam survei nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disiplin mahasiswa secara signifikan terkait dengan tingkat keterlibatan dan hasil belajar. Keterlibatan siswa juga secara signifikan berhubungan dengan hasil belajar. Hal ini diharapkan kampus memberikan sistem pembelajaran yang dapat menjadikan mahasiswa terlibat secara langsung dalam pembelajaran sehingga dengan keterlibatannya mahasiswa dapat memperoleh hasil belajar yang tinggi.

            Bentley dan Svein (2012) melalui penelitiannya tentang perbedaan individu dalam kegiatan penelitian yang berada di fakultas perbandingan 13 negara, bertujuan untuk memeriksa tingkat variasi individu dan faktor yang terkait dengan perbedaan individual. Termasuk perbedaan kebijakan universitas mengenai alokasi waktu kerja untuk penelitian antara anggota fakultas, motivasi individu terhadap penelitian, dan komitmen keluarga. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan pendekatan kuantitatif. Kemudian hasil yang ditemukan Bentley dan Svein menunjukkan bahwa faktor yang terkait dengan waktu kerja penelitian bervariasi di seluruh negara, tetapi motivasi individu terhadap penelitian (relatif terhadap pengajaran) signifikan di semua negara. Pengaruh lingkungan keluarga juga menentukan intensitas mahasiswa dalam sebuah kegiatan penelitian. Kemudian mengenai kebijakan universitas terhadap penelitian dan status penelitian fakultas masing-masing individu merupakan prediktor yang relatif lemah, walaupun efek yang lebih kuat umumnya ditemukan di negara yang berbahasa Inggris. Dari hasil tersebut dapat kita gunakan sebagai bahan acuan di dalam melaksanakan manajemen pendidikan dengan jalan mendorong siswa untuk termotivasi melakukan penelitian di lingkungan sekitar.

            Cox (2011) melakukan penelitian mengenai sebuah budaya pengajaran: kebijakan, persepsi, dan praktek di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebijakan yang dapat menumbuhkan ''budaya mengajar,'' atau mendorong penggunaan pedagogis secara efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan datanya dari 5.612 mahasiswa di fakultas dari 45 lembaga untuk menguji hubungan antara kebijakan kelembagaan dan persepsi anggota fakultas serta praktek terkait untuk mengajar dan belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kebijakan akademik memiliki hubungan kecil dan umumnya tidak signifikan terhadap persepsi fakultas atau praktik. Sebaliknya, karakteristik kelembagaan konvensional, seperti selektivitas dan klasifikasi Carnegie, tampaknya merupakan faktor yang lebih berpengaruh.

Daftar Pustaka:
Bahr, P R. 2012. Classifying Community Colleges Based on Students Patterns of Use. Journal of Research High Education. Diunduh dari http://download.springer.com/static/pdf/720 /art%253A10.1007%252Fs11162-012-9272-5.pdf?auth66=1352885762_d388558cec5f08 2a3b815e9cd195ee29&ext=.pdf 14 November 2012

Bentley, P. J. dan Svein K. 2012. Individual Differences in Faculty Research Time Allocations Across 13 Countries. Journal of Research High Education. Diunduh dari http://download.springer.com/static/pdf//art%253A10.1007%252Fs11162-012-9273-4.pdf?auth66=1353378392_f6d1f854869e128cff2f80e384f6e4cd&ext=.pdf 20 November 2012

Cox, B. E, et al. 2011. A Culture of Teaching: Policy, Perception, and Practice in Higher Education. Journal of Research High Education. Diunduh dari http://download.springer.com/static/pdf/824/art%253A10.1007%252Fs11162-011-9223-6.pdf?auth66=1353379459_0a9332b86c52cd7eebafb671b782c74e&ext=.pdf 20 November 2012

Pike, G. R., John C. S. dan Corinna A E. 2011. The Mediating Effects of Student Engagement on the Relationships Between Academic. Journal of Research High Education. Diunduh dari http://download.springer.com/static/pdf/760/art%253A10.1007%252Fs11162-012-92734.pdf? auth66=1353378392_f6d1f854869e128cff2f80e384f6e4cd&ext=.pdf 20 November 2012

Stehle, S., Birgit S dan Martina K. 2012. Measuring Teaching Effectiveness: Correspondence Between Students’ Evaluations of Teaching and Different Measures of Student Learning. Journal of Research High Education. Diunduh dari http://link.springer.com /journal//11162?utm_campaign=Education_778805utm_medium=landingpages&utm_source=springer&wt_mc=springer.landingpages.Education_778805 12 November 2012

Webber, K. L. 2012. The Role of Institutional Research in a High Profile Study of Undergraduate Research. Journal of Research High Education. Diunduh dari http://download.springer.com/static/pdf/498/art%253A10.1007%252Fs11162-012-9257-4.pdf?auth66=1353377618_4298216a01fd065821e81bfa0fa53d24&ext=.pdf 20 November 2012